Seorang penulis buku Jose Stevens dalam bukunya yang menarik ‘Transforming
Your Dragon‘ (Mentransformasikan Naga dalam Dirimu), ia menjelaskan
beberapa tahapan kematangan pribadi seseorang.
Berikutnya mari kita perhatikan ciri-ciri orang yang betul-betul memiliki kematangan.
Pertama, fokus orang matang ada pada ‘being’ (menjadi)
bukan pada ‘doing (melakukan). Perhatikan misalnya dua orang yang
sama-sama mencoret dan membuat gambar mural di tembok. Yang satu membuat coret
karena kesel dan ingin melampiaskan kemarahannya di tembok.
Namun, satunya lagi
menggambar dengan tujuan memperindah tembok itu. Jadi, meskipun sama-sama
melakukan aksi ‘coret-coret’ di tembok namun pemaknaan mereka berbeda. Satunya
dengan sebuah tujuan, dan satunya lagi hanya sekadar melampiaskan kejengkelan.
Begitu pula yang terjadi dengan perbedaan antara orang matang dengan yang tidak
matang dalam melakukan pekerjaan seperti: menjual, memberikan pelayanan, dll.
Baginya, yang penting adalah belajar dari setiap
situasi dan mencoba mengambil pembelajarannya. Biasanya, beda kualitas orang
yang dewasa dengan yang tidak, akan semakin kentara tatkala mereka harus
menghadapi situasi yang sulit.
Ketiga, orang yang dewasa bukanlah orang yang senang
menjatuhkan dan mendemotivasi. Salah satu ciri terbaik dari orang yang matang
adalah kalimat serta kata-katanya memberikan support, motivasi dan
dorongan. Disinilah kita bisa membedakan seorang teman yang matang atau tidak.
Seorang yang matang, tatkala kita sulit akan memberikan semangat. Begitu pula,
tatkala kita sukses mereka betul-betul tulus bergembira atas kemenangan dan
kesuksesan kita.
Dan akhirnya, orang yang dewasa pun mampu bersikap jujur
dalam berbagai situasi. Di satu sisi, mereka bisa menjaga kerahasiaan dengan
baik (jadi bukannya jadi ember yang bocor!). Namun, di sisi lain, mereka bisa
mengungkapkan perasaan dengan jujur tanpa menyinggung orang lain.
Akibatnya, kita tahu bahwa ungkapan serta
kalimat-kalimatnya pada dasarnya bisa dipercaya. Mereka ini bukanlah tipe yang
berbicara di depan Anda untuk menyenangkan Anda tetapi bisa berbicara lain,
pada orang dan situasi yang lain, demi kepentingannya sendiri. Dengan demikian,
Anda nyaris bisa mempercayai apa yang diucapkan oleh orang-orang yang matang
emosi dan mentalnya ini.
Nah, sekarang dengan empat ciri ini saja ada sebuah tugas
kita untuk mengevaluasi diri kita sendiri: seberapa matangnya diri kita?
Dan ingat … jangan sampai kita menilai orang lain tidak
matang, tetapi sebenarnya diri kitalah yang sebenarnya bermasalah!*
.
.
